Oleh : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy
Tak
ada manusia yang sempurna, selalu saja ada masa lalu kelam yang
terkadang selalu mengiringi hari-hari berikutnya. Hanya saja
perbedaannya. Bahwa terkadang pada seseorang masa lalunya lebih kelam
dari yang lainnya. Akan tetapi Allah dengan rahmatnya terus menerus
menerima taubat hambanya, siang dan malam…. Sebelum Ajal menjemput dan
sebelum Matahari terbit dari barat.
Allah berfirman :
وَالَّذِينَ
لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ
الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ
ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا . يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا . إِلا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا
صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ
اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Yang artinya: “Dan
orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan
(alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang
demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan
dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal
dalam azab itu, dalam Keadaan terhina, kecuali orang-orang yang
bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh;Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon:68-70)
Dan
diantara sekian masa lalu kelam yang banyak menimpa para pemudi Islam
adalah pernah terjatuh pada perbuatan zina, kemudian Allah limpahkan
kepadanya Hidayah dan dia bertaubat darinya. Maka datanglah hari dimana
seorang lelaki yang ingin mempersuntingnya datang melamar. Hati pun
bimbang, apakah harus mengabarkan tentang masa lalunya ataukah harus
menutupinya ??
Maka ketahuilah wahai saudariku, termasuk dari
rahmat Allah kepada hambanya adalah dengan menutupi aib-aib yang
dilakukan oleh hambanya, Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu
Hurairah Radhiyallahu’ anhu , Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam bersabda :
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ : ( لَا يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلَّا
سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya.” (HR. Muslim no. 2390)
Inilah
kabar gembira dari Allah kepada hamba-hambanya, maka apabila sang
pencipta Alam semesta, yang berhak mengadzab hamba-hambanya disebabkan
dosa-dosanya menutupi dosa-dosa hambanya, maka tentunya lebih utama lagi
hamba tersebut untuk menutupi aib dirinya sendiri dan juga dan aib
saudaranya. Maka sekian banyak dalil-dalil menunjukkan hal tersebut,
diantaranya adalah sabda Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam :
اجتنبوا هذه القاذو رة التي نهى الله عز وجل عنها ، فمن ألمّ فليستتر بستر الله عز وجل عنه
“Jauhilah
dosa yang telah Allah larang. Siapa saja yang telah terlajur melakukan
dosa tersebut, maka tutuplah rapat-rapat dengan apa yang telah Allah
tutupi.”
(HR. Al-Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Shohihah 663 dari Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma )
Dan bahkan Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam
mengancam bahwa orang yang suka membuka aibnya sendiri setelah ditutupi
oleh Allah, maka Allah tidak akan mengampuninya. Rasulullah Shalallahu
alaihi Wassallam bersabda :
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى
إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ
الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ
عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا
وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ
عَنْهُ
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan jahradalah
seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya
–padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan,
aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah
telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri
yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup. (HR. Bukhori No. 6069 dan Muslim 2990 dari Abu Hurairoh Radhiyallahu’ anhu )
Maka
dari dalil-dalil ini maka seorang wanita tidak boleh membuka aibnya di
masa lalu apabila dia telah berzina, walaupun yang bertanya adalah
laki-laki yang akan melamarnya, Maka hendaklah dia mengelak dari
pertanyaan tersebut, dan apabila terpaksa untuk menjawab, maka berilah
jawaban dengan Tauriyah yaitu jawaban yang memberikan pemahaman
makna berbeda bagi yang mendengar dengan yang diniatkan oleh yang
ditanya. Bisa saja dengan jawaban “ Kalau memang anda ragu, cari wanita lain“ atau dengan jawaban “Apakah anda menganggap saya seorang penzina ?? “ Atau dengan jawaban “Saya bukan seorang pelacur” atau dengan jawaban “ saya tidak berhubungan dengan laki-laki” dan dia niatkan dalam hatinya yakni saat itu, buka masa lalu.
Wallahu a’lam
*Catatan ini adalah pengembangan dari jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syitsri Hafidzahullahu Anggota Hai’ah Kibarul Ulama Saudi Arabia, pada saat Dauroh Ramadhan Kitab Sunan Abi Dawud, Di Masjidi Haram , Mekkah , Saudi Arabia. Bulan Ramadhan 1433 H
Sumber : http://assamarindy.wordpress.com
No comments:
Post a Comment