Minimnya perhatian dan kelembutan seorang ibu yang tersita
waktunya untuk aktivitas di luar rumah, jika mau disadari, sejatinya
berpengaruh besar pada perkembangan jiwa anak. Terlebih jika keperluan
anak dan suaminya malah diserahkan kepada sang pembantu/babysitter.
Lantas di manakah tanggung jawab untuk menjadikan rumah sebagai madrasah
bagi anak-anak mereka?
Banyak orang bodoh meneriakkan agar wanita jangan dikungkung dalam
rumahnya, karena membiarkan wanita diam menganggur dalam rumah berarti
membuang separuh dari potensi sumber daya manusia. Biarkan wanita
berperan dalam masyarakatnya, keluar rumah bahu membahu bersama lelaki
membangun negerinya dalam berbagai bidang kehidupan!!!
Demikian igauan mereka. Padahal dari sisi mana mereka yang bodoh ini dapat menyimpulkan bahwa separuh potensi sumber daya manusia terbuang? Dari mana mereka dapat istilah bahwa wanita yang diam di rumah karena mengurusi rumahnya adalah pengangguran? Ya, karena memang dalam defenisi kebodohan mereka, wanita pekerja adalah yang bergiat di luar rumah. Adapun yang cuma berkutat dengan pekerjaan domestik, mengurus suami dan anak-anaknya bukanlah pekerja tapi penganggur. Tidak memberikan pendapatan bagi negara.
Demikian igauan mereka. Padahal dari sisi mana mereka yang bodoh ini dapat menyimpulkan bahwa separuh potensi sumber daya manusia terbuang? Dari mana mereka dapat istilah bahwa wanita yang diam di rumah karena mengurusi rumahnya adalah pengangguran? Ya, karena memang dalam defenisi kebodohan mereka, wanita pekerja adalah yang bergiat di luar rumah. Adapun yang cuma berkutat dengan pekerjaan domestik, mengurus suami dan anak-anaknya bukanlah pekerja tapi penganggur. Tidak memberikan pendapatan bagi negara.
Tahukah mereka bahwa Islam justru memberi pekerjaan yang mulia kepada
wanita, kepada para istri di rumah-rumah mereka? Mereka diberi tanggung
jawab. Dan dengan tanggung jawab tersebut, bisakah diterima bila mereka
dikatakan menganggur, tidak memberikan sumbangsih apa-apa kepada
masyarakat dan negerinya? Dalam bentuk pendapatan berupa materi mungkin
tidak. Tapi dalam mempersiapkan generasi yang sehat agamanya dan
fisiknya? Tentu tak dapat dipungkiri peran mereka oleh orang yang
berakal sehat dan lurus serta mau menggunakan akalnya. Suatu peran yang
tidak dapat dinilai dengan materi.
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:
أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الْأَعْظَمُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang
ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia
adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang
lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan
ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli
bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka.
Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya
tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap
kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138
dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)
Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. Ia dituntut untuk berlaku adil dan menunaikan perkara yang dapat memberi maslahat bagi apa yang diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140)
Berdasarkan makna ra’in di atas, berarti setiap orang memegang amanah,
bertindak sebagai penjaga, dan kelak ia akan ditanya tentang apa yang
diamanahkan kepadanya. Seorang pemimpin manusia, sebagai kepala negara
ataupun wilayah yang lebih kecil darinya, merupakan pemegang amanah dan
bertanggung jawab terhadap kemaslahatan rakyatnya dan kelak ia akan
ditanya tentang kepemimpinannya. Begitu pula seorang suami sebagai
kepala rumah tangga, ia memegang amanah, sebagai penjaga serta pengatur
bagi keluarganya dan kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa
yang dipimpinnya. Berikutnya seorang istri, selaku pendamping suami, ia
memegang amanah sebagai pengatur urusan dalam rumah suaminya berikut
anak-anak suaminya dan ia pun kelak akan ditanya tentang pengaturannya
dan tentang anak-anaknya.
Al-Khaththabi rahimahullahu berkata, “Mereka yang disebutkan dalam
hadits di atas, seorang imam/pemimpin negara, seorang lelaki/suami dan
yang lainnya, semuanya berserikat dalam penamaan atau pensifatan sebagai
ra’in. Namun makna atau tugas/peran mereka berbeda-beda. Amanah dan
tanggung jawab imam a’zham (pemimpin negara) adalah untuk menjaga
syariat dengan menegakkan hukum had dan berlaku adil dalam hukum.
Sementara kepemimpinan seorang suami terhadap keluarganya adalah
pengaturannya terhadap perkara mereka dan menunaikan hak-hak mereka.
Adapun seorang istri, amanah yang ditanggungnya adalah mengatur urusan
rumahnya, anak-anaknya, pembantunya dan mengatur semua itu dengan baik
untuk suaminya. Seorang pelayan ataupun budak, ia bertanggung jawab
menjaga apa yang ada di bawah tangannya dan menunaikan pelayanan yang
wajib baginya.” (Fathul Bari, 13/141)
Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa
setiap orang yang mengurusi sesuatu dari perkara orang lain, ia dituntut
untuk berlaku adil di dalamnya, menunaikan haknya yang wajib,
menegakkan perkara yang dapat memberi maslahat kepada apa yang
diurusinya. Seperti, seorang suami dalam keluarganya, istri dalam
pengurusannya terhadap rumah dan harta suaminya serta anak-anaknya,
budak dalam pengurusan dan pengaturannya terhadap harta tuannya.”
(Al-Ikmal, 6/230)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menjelaskan, “Setiap ra’in bermacam-macam yang diaturnya dan amanah yang ditanggungnya. Ada yang tanggung jawabnya besar lagi luas dan ada yang tanggung jawabnya kecil. Karena itulah Nabi bersabda: الأَمِيرُ رَاعٍ, ia akan ditanya tentang ra’iyahnya (rakyatnya/ apa yang diatur dan dipimpinnya), seorang suami juga ra’in tapi ra’iyahnya terbatas hanya pada ahli baitnya, yaitu istrinya, anak laki-lakinya, anak perempuannya, saudara perempuannya, bibinya dan semua orang yang ada di rumahnya. Ia ra’in bagi ahli baitnya dan akan ditanya tentang ra’iyahnya, maka wajib baginya untuk mengatur dan mengurusi mereka dengan sebaik-baik pengaturan/pengurusan, karena ia akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban tentang mereka.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menjelaskan, “Setiap ra’in bermacam-macam yang diaturnya dan amanah yang ditanggungnya. Ada yang tanggung jawabnya besar lagi luas dan ada yang tanggung jawabnya kecil. Karena itulah Nabi bersabda: الأَمِيرُ رَاعٍ, ia akan ditanya tentang ra’iyahnya (rakyatnya/ apa yang diatur dan dipimpinnya), seorang suami juga ra’in tapi ra’iyahnya terbatas hanya pada ahli baitnya, yaitu istrinya, anak laki-lakinya, anak perempuannya, saudara perempuannya, bibinya dan semua orang yang ada di rumahnya. Ia ra’in bagi ahli baitnya dan akan ditanya tentang ra’iyahnya, maka wajib baginya untuk mengatur dan mengurusi mereka dengan sebaik-baik pengaturan/pengurusan, karena ia akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban tentang mereka.
Demikian pula seorang istri merupakan ra’iyah di rumah suaminya dan akan
ditanya tentang urusannya. Maka wajib baginya untuk mengurusi rumah
dengan baik, dalam memasak, dalam menyiapkan kopi, teh, dalam menyiapkan
tempat tidur. Janganlah ia memasak lebih dari yang semestinya. Jangan
ia membuat teh lebih dari yang dibutuhkan. Ia harus menjadi seorang
wanita yang bersikap pertengahan, tidak mengurangi-ngurangi dan tidak
berlebih-lebihan, karena sikap pertengahan adalah separuh dari
penghidupan. Tidak melampaui batas dalam apa yang tidak sepantasnya. Si
istri bertanggung jawab pula terhadap anak-anaknya dalam perbaikan
mereka dan perbaikan keadaan serta urusan mereka, seperti dalam hal
memakaikan pakaian kepada mereka, melepaskan pakaian yang tidak bersih
dari tubuh mereka, merapikan tempat tidur mereka, memerhatikan penutup
tubuh mereka di musim dingin. Demikian, ia akan ditanya tentang semua
itu. Sebagaimana ia akan ditanya tentang memasaknya untuk keluarganya,
baiknya dalam penyiapan dan pengolahannya. Demikianlah ia akan ditanya
tentang seluruh apa yang ada di dalam rumahnya.” (Syarhu Riyadhis
Shalihin, 2/106,107)
Jelas, wanita sudah memiliki amanah dan tugas tersendiri yang harus
dipikulnya dengan sebaik-baiknya. Dan yang menetapkan amanah dan tugas
tersebut bukan sembarang orang tapi manusia yang paling mulia, paling
berilmu dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pengemban syariat yang
diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari atas langit yang ketujuh.
Dan beliau tidaklah menetapkan syariat dari hawa nafsunya, melainkan
semuanya merupakan wahyu yang diwahyukan kepada beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Dan para ibu rumah tangga jangan termakan dan tertipu dengan teriakan orang-orang bodoh di luar sana sehingga timbul rasa minder berhadapan dengan wanita-wanita karir dan merasa diri cuma menganggur di rumah. Padahal di rumah ada suami yang harus ditaati dan dikhidmatinya. Ada anak-anak yang harus ditarbiyah dengan baik. Ada harta suami yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. Dan ada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang butuh penanganan dan pengaturan. Semua ini pekerjaan yang mulia dan berpahala bila diniatkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan para ibu rumah tangga harus ingat bahwa mereka kelak pada hari kiamat akan ditanya tentang amanah yang dibebankan kepadanya, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dan juga ada hadits lain yang berbunyi:
Dan para ibu rumah tangga jangan termakan dan tertipu dengan teriakan orang-orang bodoh di luar sana sehingga timbul rasa minder berhadapan dengan wanita-wanita karir dan merasa diri cuma menganggur di rumah. Padahal di rumah ada suami yang harus ditaati dan dikhidmatinya. Ada anak-anak yang harus ditarbiyah dengan baik. Ada harta suami yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. Dan ada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang butuh penanganan dan pengaturan. Semua ini pekerjaan yang mulia dan berpahala bila diniatkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan para ibu rumah tangga harus ingat bahwa mereka kelak pada hari kiamat akan ditanya tentang amanah yang dibebankan kepadanya, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dan juga ada hadits lain yang berbunyi:
مَا مِنْ رَاعٍ إِلاَّ يُسْأَلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَقَامَ أَمْرَ اللهِ أَمْ أَضَاعَهُ
“Tidak ada seorang ra’in pun kecuali ia akan ditanya pada hari kiamat,
apakah ia menunaikan perintah Allah atau malah menyia-nyiakannya.” (HR.
Ath-Thabarani dalam Al-Ausath dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
sebagaimana dibawakan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu
dalam Fathul Bari ketika memberi penjelasan terhadap hadits Abdullah bin
Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas )
Dan juga hadits:
إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ حَفِظَ أَوْ ضَيَّعَهُ
“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap ra’in tentang apa yang
dibawah pengaturannya, apakah ia menjaganya atau malah
menyia-nyiakannya.” (HR. Ibnu ‘Adi dengan sanad yang dishahihkan oleh
Al-Hafizh rahimahullahu dalam Fathul Bari, dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu)
Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa seorang yang mukallaf, termasuk dalam hal ini seorang istri sebagai ibu rumah tangga, akan menanggung dosa karena sikap penyia-nyiaannya terhadap perkara yang berada di bawah tanggungannya. (Fathul Bari, 13/141)
Karenanya tunaikan amanah dan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Dan sadarilah bahwa peran wanita dalam masyarakat Islam amatlah besar dan penting. Di mana ia harus menunaikan hak suaminya dan kewajibannya terhadap anak-anaknya dengan memberikan pendidikan dan menyiapkan kebutuhan mereka agar kelak anak-anak tersebut dapat membawa agamanya dengan kekuatan dan kemuliaan. (Bahjatun Nazhirin, 1/369)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
http://asysyariah.com/print.php?id_online=625
No comments:
Post a Comment