Apa itu WAHABI..???
Pendiri Wahabi adalah Abdul Wahab bin
Abdurrahman bin Rustum (wafat 211 H).
BUKAN Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab (wafat 1206 ).
Sebenarnya, Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah
khawarij yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah (jauh sebelum masa
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada
Tokoh Sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun
211 H. Wahabi ini merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada Ahlus
Sunnah,dan sangat jauh dari Islam.
Untuk
menciptakan permusuhan di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum
munafikun memancing di air keruh dengan menyematkan baju lama (Wahabi)
dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya untuk MENGHANTAM
dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau setiap dakwah mana saja yang
mengajak untuk memurnikan Islam(Penegak Sunnah).
Karena
dakwah beliau sanggup merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan
kaum durjana dan melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau
dianggap sebagai penghalang yang mengancam eksistensi mereka di
negeri-negeri Islam.
Contohnya: Inggris
mengulirkan isue wahabi di India, Prancis menggulirkan isu wahabi di
Afrika Utara, bahkan Mesir menuduh semua kelompok yang menegakkan dakwah
tauhid dengan sebutan Wahabi, Italia juga mengipaskan tuduhan wahabi di
Libia, dan Belanda di Indonesia, bahkan menuduh Imam Bonjol yang
mengobarkan perang Padri sebagai kelompok yang beraliran Wahabi.
Semua
itu, mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan terhadap pengaruh
murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengobarkan jihad
melawan Imperialisme di masing-masing negeri Islam.
Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor:
1. Tuduhan itu berasal dari para tokoh agama yang memutarbalikkan
kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka
bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta
bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam.
Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih
dan para wali.
2. Mereka berasal dari
kalangan ilmuwan namun tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, bahkan mereka hanya mendengar
tentang beliau dari pihak yang sentimen dan tidak senang Islam kembali
jaya, sehingga mereka mencela beliau dan dakwahnya sehingga memberinya
sebutan Wahabi.
3. Ada sebagian dari
mereka takut kehilangan posisi dan popularitas karena dakwah tauhid
masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan proyek raksasa yang
mereka bangun siang malam.
Dan
barangsiapa ingin mengetahui secara utuh tentang pemikiran dan ajaran
Syaikh Muhammad (Abdul Wahab) maka hendaklah membaca kitab-kitab beliau
seperti Kitab Tauhid, Kasyfu as-Syubhat, Usul ats-Tsalatsah dan Rasail
beliau yang sudah banyak beredar baik berbahasa arab atau Indonesia.
FATWA AL-LAKHMI DITUJUKAN KEPADA WAHABI (ABDUL WAHHAB BIN
ABDURRAHMAN BIN RUSTUM) SANG TOKOH KHAWARIJ BUKAN KEPADA SYAIKH MUHAMMAD
ABDUL WAHAB
Mengenai fatwa Al-Imam Al-Lakhmi yang dia mengatakan bahwa
Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij. Maka yg
dia maksudkan adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan
kelompoknya bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para
pengikutnya.
Hal ini
karena tahun wafat Al-Lakhmi adalah 478 H sedangkan Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M. Amatlah
janggal bila ada orang yg telah wafat namun berfatwa tentang seseorang
yg hidup berabad-abad setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin Abdurrahman
bin Rustum maka dia meninggal pada tahun 211 H.
Sehingga
amatlah tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikut Al-Lakhmi
merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara dan fitnah Wahhabiyyah
Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi
hubungan antara Najd dgn Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh.
Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah Khawarij
yg diperingatkan Al-Lakhmi adl Wahhabiyyah Rustumiyyah bukan Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. [Lihat kitab Al-Mu’rib
Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi, juz
11.]
Perbedaan Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum Dan Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab
1.Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum (Khawarij)>SESAT
Khawarij adalah salah satu kelompok dari kaum muslimin yang
mengkafirkan pelaku maksiat (dosa besar), membangkang dan memberontak
terhadap pemerintah Islam, dan keluar dari jama’ah kaum muslimin.
Termasuk dalam kategori Khawarij, adalah Khawarij generasi awal
(Muhakkimah Haruriyah) dan sempalan-sempalannya, seperti al-Azariqah,
ash-Shafariyyah, dan an-Najdat –ketiganya sudah lenyap– dan al-Ibadhiyah
–masih ada hingga sekarang–.
Termasuk
pula dalam kategori Khawarij, adalah siapa saja yang dasar-dasar jalan
hidupnya seperti mereka, seperti Jama’ah Takfir dan Hijrah. Atas dasar
ini, maka bisa saja Khawarij muncul di sepanjang masa, bahkan
betul-betul akan muncul pada akhir zaman, seperti telah diberitakan oleh
Rasulullah.“Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang usianya
rata-rata masih muda dan sedikit ilmunya.
Perkataan
mereka adalah sebaik-baik perkataan manusia, namun tidaklah keimanan
mereka melampaui tenggorokan Maksudnya, mereka beriman hanya sebatas
perkataan tidak sampai ke dalam hatinya – red. Mereka terlepas dari
agama; maksudnya, keluar dari ketaatan – red sebagaimana terlepasnya
anak panah dari busurnya. Maka di mana saja kalian menjumpai mereka,
bunuhlah! Karena hal itu mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR. Al
Bukhari no. 6930, Muslim no. 1066)
2. Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab (Ahlussunnah Wal Jama’ah)
Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat
tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para
musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan
orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah
sebenarnya yang diusung oleh beliau.
Syaikh berkata,“Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan
hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan
hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar;
agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk
orang-orang yang musyrik.Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak
kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran
orang filsafat.
Akan tetapi aku
mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada
sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan
kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika
datang kepadaku.
Bahkan
aku jadikan Allah Ta'ala, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya
sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku
akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua
yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah
menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).
“Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti
dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.”
(KitabMuallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36
Pada
zaman ini, zaman yang tersebar kesyirikan dan hal-hal jelek dalam diri
kaum muslimin, terdapat kebangkitan mubarakah, yang mana keutamaannya
dan karunia ini dari Allah semata. Dia-lah yang memberkahi, menumbuhkan
dan menunjuki jalannya.
Lalu
musuh-musuh Islam bermaksud menjauhkan manusia dari kebangkitan yang
diberkahi ini dengan memberikan bermacam-macam julukan untuk memalingkan
kaum muslimin dari kebangkitan dan kesadaran yang diberkahi.
Dalam (kesempatan) ini, kami berbicara –Insya Allah- tentang satu
julukan saja, walaupun (Alhamdulillah) banyak saudara-saudara kita tidak
mengetahui tentang hal ini. Akan tetapi ini termasuk dari (pelaksanaan)
bab : “Hendaknya seorang yang tahu menyampaikan kepada orang yang tida
tahu”. Karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir”
Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.“Artinya : Semoga
Allah memperindah orang yang mendengar perkataanku, lalu menghafal dan
menyampaikannya”
Memahami julukan buruk
yang disebarkan oleh orang-orang Komunis, pengikut Partai Ba’ats,
pengikut pemahaman (Jamal Abdul Naser) orang-orang SYIAH RAFIDHOH,
orang-orang Sufi dan Ahli Bid’ah, yang MEREKA SEBARKAN dilingkungan
masyarakat untuk menghalangi manusia dari sunnah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, kata-kata tersebut adalah “WAHABIYYAH”, orang-orang
yang berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, mereka menjauhkan manusia dan memberikan julukan buruk agar
manusia lari darinya.
Perlu diketahui,
bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah adalah termasuk
Ulama yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah, beliau seorang ulama yang
bisa benar dan bisa salah, kalaulah kita orang-orang yang berbuat
“Taklid” (mengikuti tanpa dasar) tentulah kita akan “Taklid” kepada
ulama Yaman yaitu Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani –beliau hidup
sezaman dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab-, dan beliau lebih alim
dari pada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, akan tetapi Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab dakwahnya diberi kekuatan oleh Allah Ta'ala dengan
kekuasaan hingga tersebarlah ilmu beliau.
Adapun
Muhammad bin Ismail Al-Amir karya beliau (karangan-karangannya)
memenuhi dunia, kaum muslimin mendapat manfaat dari kitab-kitabnya,
orang-orang Yaman “Membenci Beliau” dan mereka berkehendak mengusirnya
dari negeri Shan’a (Yaman).
Itulah kata
(Wahabiyyah) yang dengannya manusia dijauhkan dan dihalangi dari sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib bagi kalian untuk
berhati-hati dan melihat apa maknanya.
Kata (Wahabiyyah) dinisbatkan kepada seorang ulama bukan dinisbatkan
kepada “Marx” dan bukan pula kepada “Lenin” dan bukan pula dinisbatkan
kepada “Amerika” atau “Rusia” dan bukan juga dinisbatkan kepada “Para
pemimpin musuh-musuh Islam” dan kami tidak memperbolehkan seorang muslim
untuk menisbatkan dirinya kecuali kepada Islam dan kepada Nabi kita
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sepatutnya kalian berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam masalah
ini. Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam ketika burung Hud-Hud mengabarinya
tentang apa yang dilakukan oleh Ratu Saba’ dan kaumnya.
قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Artinya : Berkata Sulaiman : ‘Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang dusta” [An-Naml : 27]
Dan Allah berfirman dalam kitabNya yang mulia.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا
فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Artinya : Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu
musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan
kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [Al-Hujarat : 6]
Kami berbicara tentang hal ini bukanlah lantaran Ahli Sunnah dan Ahli
Agama di “Dammaj” (tempat Syaikh Muqbil bermukim), karena sesungguhnya
dakwah mereka –segala puji bagi Allah Ta'ala- diterima oleh penduduk
Yaman, akan tetapi permasalahannya adalah propaganda ini telah melanda
negeri Saudi Arabia, Mesir, Sudan, Syam, Iraq dan seluruh negeri-negeri
Islam. Barangsiapa berpegang teguh kepada agama, mereka akan mencapnya :
“Itu adalah pengikut Wahabi”.
Dan Allah Ta'ala berfirman dalam kitabNya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا
الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ
الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ
وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ
أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى
الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ
الْعِقَابِ
“Artinya : Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan
melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan
(pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka
mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah
sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya
(kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksaNya” [Al-Maidah : 2]
Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam shahih Muslim.
“Artinya : Orang muslim adalah saudara muslim lainnya. Ia tidak akan
mendhaliminya, menghinakannya dan tidak meremehaknnya. Ketakwaan itu
adalah disini (beliau menunjuk) ke dada”.
Kami memperingatkan tentang propaganda ini, karena rasa kasih sayang
kepada saudara-saudara sekalian dari berburuk sangka kepada
saudara-saudara kita para da’i yang menyeru ke jalan Allah Azza wa Jalla
dan supaya mereka tidak mengganggu para da’i di jalan Allah, karena
Allah berfirman dalam Al-Qur’an.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا
اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan
mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka
telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Dan perkaranya adalah sebagaimana pepatah : “Lempar Batu Sembunyi Tangan”
Perkaranya (adalah sebagaimana telah dikatakan) bahwasanya Komunis,
pengikut Partai Ba’ats, pendukung Jamal Abdul Naser (Pan Arab) berbeda
dengan Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan para da’i yang menyeru kepada Allah
dan Allah berfirman.
وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Artinya : Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa,
kemudian di tuduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka
sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan yang nyata” [An-Nisa :
112]
Dan aku katakan kepada
saudara-saudara para da’i yang menyeru kepada Allah di seluruh negeri
Islam : Hendaknya mereka bersungguh-sungguh menyingsingkan lengan (untuk
berdakwah), dan hendaknya ikhlas mengharapkan wajah Allah (dalam
berdakwah), bukan lantaran ingin mendapatkan kursi, kedudukan, dan bukan
pula lantaran ingin mendapatkan kehidupan dunia, sesungguhnya Allah
tidak akan menerima amal kecuali jika amal itu didasari keikhlasan untuk
mengharapkan wajah Allah, berdakwah kepada Allah lebih tinggi nilainya
daripada kursi, kedudukan dan kehidupan dunia yang nilainya sedikit ini.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Artinya : Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang
yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata :
“Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri” [Fushilat : 33]
Ya, Allah berfirman.
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ
فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا
لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Artinya : Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka
(musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun
menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu
mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [An-Nisa : 104]
Kalian mempunyai Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sedangkan musuh-musuh kalian dari kalangan kaum Komunis,
pengikut Partai Ba’ats, pengikut pemahaman Pan Arab, Syi’ah, Sufiyah,
propaganda mereka dibanguun diatas kedustaan, kebohongan serta
pengkhianatan. Sedangkan para da’i yang menyeru kepada Allah tidak ada
yang menolong mereka melainkan Allah, dan cukuplah Allah sebagai
penolong. Dan Allah berfirman dalam Al-Qur’an untuk mengokohkan
hamba-hambaNya yang beriman.
وَلَا
تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ
مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Artinya : Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu
bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang
Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang
Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran)
itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat
pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan
orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikanNya (gugur
sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”
[Ali-Imran : 139-140]
Dan Allah juga berfirman.
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
“Artinya : Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di
atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan
mengurangi (pahala) amal-amalmu” [Muhammad : 35]
Akan tetapi sepatutnya dakwah itu bukanlah dakwah pemberontakan dan
penggulingan, karena dakwah seperti ini lebih banyak kerusakan daripada
kebaikannya, dakwah itu adalah dengan mengajak kaum muslimin kembali
kepada Al-Qur’an dan sunnah nabi mereka Muhammad Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Allah berfirman.
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Artinya : Dan katakanlah : “Yang benar telah datang dan yang bathil
telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap” [Al-Isra : 81]
Dalam ayat yang
mulia ini terdapat berita gembira dari Allah bahwasanya kebatilan tidak
akan mampu berdiri kokoh didepan kebenaran, dan Allah berfirman.
أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا
فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ
فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ
كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ
فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي
الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Artinya : Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka
mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu
membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur
dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya
seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang
benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu
yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka
ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”
[Ar-Ra’du : 17]
Maka kami memuji Allah
yang membangkitkan penduduk Yaman khususnya, dan juga penduduk Najd
Saudi Arabia dan Mesir, sungguh banyak diantara mereka menjadi
orang-orang yang tidak terpengaruh dengan propaganda yang keji ini yang
mana propaganda ini ditujukan kepada seorang ulama yang dipuji oleh
ulama Islam. Syaikh Muhammad bin Ismail Al-Amir An-Shan’ani Rahimahullah
berkata tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah :
“Telah datang kabar gembira (datangnya Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahab)Yang telah mengembalikan syariat IslamBeliau singkap kebodohan
orang jahil dan mubtadi’ maka beliau sama dengankuBeliau bangun kembali
tiang-tiang agama dan menghancurkan kuburan-kuburan keramat yang membuat
manusia sesat.Mereka membuat kembali berhala-berhala seperti suwa,
yaghuts, wad dan ini sejelek-jeleknya.Dan mereka memohon kepada
berhala-berhala itu dikala susah seperti seorang yang meminta Allah Yang
Maha EsaBerapa banyak orang yang thowaf dikuburan sambil mencium dan
mengusap dinding-dinding kuburan dengan tangan-tangan mereka”
Wajib bagi para da’i yang menyeru kepada Allah untuk tetap istiqomah
diatas kebenaran. Kami telah mengatakan dalam beberapa pengajian maupun
khutbah bahwasanya propaganda itu adalah kedustaan semata (menyandarkan
diri kita kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah)
sesungguhnya kami tidak ridha untuk dinisbatkan selain kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberi syafaat kami dan yang kami
cintai, yang mana Allah Ta'ala mengeluarkan kami dengan perantaraan
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kegelapan kepada cahaya.
Propaganda-propaganda itu akan sirna (cepat atau lambat) sebagaimana
Nabi Muhammad pernah dijuluki As-Shabi’ (artinya orang yang keluar dari
agama nenek moyangnya dan berganti agama dengan agama lain).
Adapun
kami tidaklah keluar dari agama dan berganti dengan agama lainnya, kami
tidak mengkafirkan bapak-bapak kami, sebagaimana persangkaan mereka !
Dan kami tidak mengkafirkan para wali ataupun membenci Ahlul Bait
(keluarga Nabi). Bahkan kami telah membahas tentang keutamaan-keutamaan
keluarga Nabi dalam beberapa ceramah.
Kami
tidak membenci orang-orang shalih dan tidak mengkafirkan masyarakat
muslimin, kami tidak memperbolehkan keluar dari ketaatan pemerintahan
muslim, maka hendaknya orang yang menyaksikan hal ini menyampaikan
kepada orang yang tidak tahu. Setelah ini propaganda itu akan lenyap dan
akan menjadi sebab bagi tersebarnya sunnah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Allah berfirman dalam Al-Qur’an.
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ
شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا
اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ
عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Artinya : Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu
juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan
ia dalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat
balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang
mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu
baginya azab yang besar.
لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ
Mengapa diwaktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin
dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan
(mengapa tidak) berkata : “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”
[An-Nur : 11-12]
Jika kamu mendengarkan
seseorang berkata : “Itu pengikut Wahabi”, maka ketahuilah bahwa ia
termasuk salah satu dari golongan dibawah ini.
1. Mungkin ia seorang yang melakukan perbuatan keji2. Atau mungkin seorang yang bodoh tidak mengetahui hakekat ini.
Ini adalah kedustaan yang besar terhadap para da’i yang menyeru kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an.
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ
آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan
yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi
mereka azab yang pedih didunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui” [An-Nur : 19]
Allah telah menamai kita sejak dahulu sebagai muslimin dan kita umat
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meridhai Nabi Muhammad
diganti, kami tidak meridhai untuk menisbatkan diri kami kepada Syafi’i
atau Zaidi atau kepada Wahabi atau selainnya. Mereka itu semua adalah
para ulama yang agung, yang mana mereka menganggap telah berbuat jahat
kepada orang yang menisbatkan diri mereka kepada para ulama.
Saya menasehatkan kepada saudara-saudara seagama untuk membaca kitab
beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah) yaitu “Kitabut
Tauhid” niscaya kalian akan melihat ayat-ayat Al-Qur’an dan
hadits-hadits Nabi. Kitab itu adalah kitab yang agung walaupun
didalamnya ada sedikit hadits-hadits yang dha’if, namun tidaklah
mengurangi kwalitasnya. Sungguh telah diterangkan dalam kitab “ An-Nahju
Asy-Syadidu” : “Janganlah kalian menjadi seperti bunglon dengan
mengatakan jika manusia berbuat baik maka kami akan berbuat baik, dan
jika mereka berbuat dhalim maka kami akan berbuat dhalim, akan tetapi
tanamkanlah dalam jiwa-jiwa kalian jika manusia berbuat baik kalian akan
berbuat baik, dan jika mereka berbuat jahat maka janganlah kalian
berbuat jahat. Wallahu Musta’an
________________________________________________
No comments:
Post a Comment