SHAHABAT BUKAN MUNAFIK
( Bantahan Terhadap Syubhat ke-4)
Di antara Syubhat dari kaum Syi’ah dan kaum mutasyayi’in (kaum
yang terpe-ngaruh dengan syubhat Syi’ah) adalah ucapan mereka:
“Shahabat nabi itu tidak semuanya mukmin, ada pula di antara mereka yang
munafik”, “Masalah iman itu kan masalah ha-ti, bisa jadi pada lahirnya
mereka seperti mukmin akan tetapi hatinya kafir”, atau ucapan: “Siapa
tahu Abu Bakar dan Umar ternyata munafik”. Ucapan-ucapan syubhat dan
tasykik (membikin keraguan) ini sering diucapkan oleh mereka untuk
meragukan kemuliaan dan keimanan para shahabat Rasulullah shalallahu
'alaihi wa sallam, dan pada akhirnya menjatuhkan kedudukan mereka.
( Bantahan Terhadap Syubhat ke-4)
Sesungguhnya, jika pertanyaan mereka adalah: “Siapa tahu hati mereka?”, maka jawabannya sangat jelas . Allahlah yang maha Mengetahui hati mereka sebagaimana dise-butkan dalam firman-Nya:
وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ. ]العنكبوت: 11[
Dan
sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman, dan
sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (al-Ankabut: 11)
Dan Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian, Allah telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa para shahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman:
Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata: “…yaitu pasti Allah akan berikan suatu cobaan yang akan menampakkan wali-wali-Nya dan mem-permalukan musuh-musuh-Nya dan akan di-ketahui siapa mukmin yang sabar dan siapa munafik yang jahat…” (Tafsir Ibnu Katsir 1/468)
Juga Allah mengancam orang-orang munafik untuk membongkar kedok mereka dalam ayat-Nya:
Dan Allah memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika Ia menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai ma-cam ujian, hingga terlihat siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa-kah yang berdusta (munafik).
Ujian pertama yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman dari kalangan para shahabat nabi shalallahu 'alaihi wa sallam adalah gangguan dan penyik-saan dari kaumnya di Mekah. Sebagian mere-ka disiksa dengan api. Sebagian lainnya di-usir, dicela dan dicaci-maki dengan berbagai macam tuduhan yang keji.
Dengan demikian semua orang paham bahwa para shahabat yang masuk Islam di Mekah sebelum hijrah adalah orang-orang yang telah terbukti keislaman dan keima-nannya, dan terbebas dari tuduhan munafik, karena tidak mungkin ada seorang yang ber-pura-pura masuk Islam ketika itu untuk dicaci-maki, dan disiksa.
Ujian berikutnya adalah perintah untuk hijrah yaitu untuk meninggalkan negeri dan tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir dalam rangka mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah katakan tentang mereka:
Dalam ayat ini Allah memuji para muhajirin dengan kalimat ash-Shadiqiin (orang-orang yang jujur dan benar imannya).
Demikian pula orang-orang yang beriman di Madinah, mereka menyambut dan mempersiapkan tempat bagi para muhajirin, bahkan mereka lebih mementingkan tamu-tamunya tersebut melebihi daripada diri dan keluarganya. Maka Allah pun memuji para shahabat dari kalangan Anshar tersebut.
Dalam ayat ini Allah menjuluki kaum Anshar dengan kalimat al-Muflihuun (orang-0rang yang akan mendapatkan kemenangan dan kemuliaan). Merekalah yang disebut sebagai as-Saabiqunal Awwalun yaitu kaum muha-jirin dan kaum Anshar.
Jihad Sebagai Tolok Ukur
Ketika kaum muslimin mulai kuat dan banyak di Madinah, muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, namun dalam hatinya menyimpan kekufuran. Hal ini mereka laku-kan agar terlindung jiwa dan harta mereka, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.
Tentu saja mereka (orang-orang mu-nafiq) itu adalah kaum yang paling tidak suka sesuatu yang akan mengorbankan diri dan hartanya. Sehingga ketika turun perintah un-tuk berjihad, terlihat bahwa merekalah yang paling pertama menolak dan menghindarinya dengan alasan yang dibuat-buat. Dengan perintah untuk berjihad ini terpisahlah de-ngan jelas antara dua golongan yaitu mereka yang lulus (mukmin) dan yang gagal (munafik).
Tentang mereka yang lulus pada ujian ini, Allah katakan:
Dalam ayat di atas, Allah kembali memuji mereka dan menggelarinya sebagai ash-Shaadiquun yaitu orang-orang yang jujur dan be-nar-benar beriman, bukan kaum munafik.
Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini. Allah tampakkan kemunafiqan mereka dalam beberapa kejadian.
Setiap mereka berupaya untuk meng-hindari jihad dengan kedustaan-kedustaan dan sumpah-sumpah palsu, Allah menurun-kan ayat-Nya yang menceritakan alasan-alasan mereka itu. Allah katakan dalam ayat-ayat tersebut dengan kalimat: “Berkata kaum munafik…” atau kalimat “Berkata dengan mulutnya yang tidak ada dalam hatinya”. Sehingga Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya mengerti tentang siapa-siapa orang-orang munafik. Bahkan kaum muslimin setelahnya dan kita semua mengetahui siapa para muna-fik itu satu persatu.
Allah berfirman:
Selain dengan kalimat-kalimat tersebut di atas, Allah juga jelaskan mereka dengan kalimat yang semakna dan senada seperti al-Mukhalafuun (yakni orang-orang yang meng-hindar dari jihad), “yang tidak jujur”, atau “yang di hatinya ada penyakit” dan lain-lainnya.
Allah berfirman:
Dan Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian, Allah telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa para shahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman:
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ... ال عمران: 179
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang
beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisih-kan
yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)… (Ali Imran: 179)
Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata: “…yaitu pasti Allah akan berikan suatu cobaan yang akan menampakkan wali-wali-Nya dan mem-permalukan musuh-musuh-Nya dan akan di-ketahui siapa mukmin yang sabar dan siapa munafik yang jahat…” (Tafsir Ibnu Katsir 1/468)
Juga Allah mengancam orang-orang munafik untuk membongkar kedok mereka dalam ayat-Nya:
أَمْ
حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ
أَضْغَانَهُمْ (29) وَلَوْ نَشَآءُ َلأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ
بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ
أَعْمَالَكُمْ. محمد: 29-30
Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya
mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mere-ka? Dan kalau
Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu
benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu
benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-k-iasan perkataan mereka
dan Allah menge-tahui perbuatan-perbuatanmu. (Muham-mad: 29-30)
Dan Allah memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika Ia menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai ma-cam ujian, hingga terlihat siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa-kah yang berdusta (munafik).
الم
(1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ
لاَ يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ
الْكَاذِبِينَ. العنكبوت: 1-3
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka
dibiarkan (saja) berkata: "Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak
diuji lagi? Dan sesungguhnya kami te-lah menguji orang-orang yang
sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah menge-tahui orang-orang yang
benar dan sesung-guhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(al-Ankabut: 1-3)
Ujian pertama yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman dari kalangan para shahabat nabi shalallahu 'alaihi wa sallam adalah gangguan dan penyik-saan dari kaumnya di Mekah. Sebagian mere-ka disiksa dengan api. Sebagian lainnya di-usir, dicela dan dicaci-maki dengan berbagai macam tuduhan yang keji.
Dengan demikian semua orang paham bahwa para shahabat yang masuk Islam di Mekah sebelum hijrah adalah orang-orang yang telah terbukti keislaman dan keima-nannya, dan terbebas dari tuduhan munafik, karena tidak mungkin ada seorang yang ber-pura-pura masuk Islam ketika itu untuk dicaci-maki, dan disiksa.
Ujian berikutnya adalah perintah untuk hijrah yaitu untuk meninggalkan negeri dan tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir dalam rangka mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah katakan tentang mereka:
لِلْفُقَرَاءِ
الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحشر: 8
(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari
kampung halaman dan dari har-ta benda mereka (karena) mencari karunia
dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya.
Mereka itulah orang-orang yang benar. (al-Hasyr: 8)
Dalam ayat ini Allah memuji para muhajirin dengan kalimat ash-Shadiqiin (orang-orang yang jujur dan benar imannya).
Demikian pula orang-orang yang beriman di Madinah, mereka menyambut dan mempersiapkan tempat bagi para muhajirin, bahkan mereka lebih mementingkan tamu-tamunya tersebut melebihi daripada diri dan keluarganya. Maka Allah pun memuji para shahabat dari kalangan Anshar tersebut.
وَالَّذِينَ
تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ
هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا
أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. الحشر: 9
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah
beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka
(Anshar) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan
mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Mu-hajirin), atas diri mereka sendiri,
sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (al-Hasyr:
9)
Dalam ayat ini Allah menjuluki kaum Anshar dengan kalimat al-Muflihuun (orang-0rang yang akan mendapatkan kemenangan dan kemuliaan). Merekalah yang disebut sebagai as-Saabiqunal Awwalun yaitu kaum muha-jirin dan kaum Anshar.
Jihad Sebagai Tolok Ukur
Ketika kaum muslimin mulai kuat dan banyak di Madinah, muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, namun dalam hatinya menyimpan kekufuran. Hal ini mereka laku-kan agar terlindung jiwa dan harta mereka, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.
Tentu saja mereka (orang-orang mu-nafiq) itu adalah kaum yang paling tidak suka sesuatu yang akan mengorbankan diri dan hartanya. Sehingga ketika turun perintah un-tuk berjihad, terlihat bahwa merekalah yang paling pertama menolak dan menghindarinya dengan alasan yang dibuat-buat. Dengan perintah untuk berjihad ini terpisahlah de-ngan jelas antara dua golongan yaitu mereka yang lulus (mukmin) dan yang gagal (munafik).
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ. محمد: 31
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar
Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian,
dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) keadaan kalian. (Muham-mad:
31)
Tentang mereka yang lulus pada ujian ini, Allah katakan:
وَالَّذِينَ
ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ
ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ
مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال: 74
Dan orang-orang yang beriman dan ber-hijrah serta berjihad
pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediam-an dan
memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah
orang-orang yang benar-benar beriman. Me-reka memperoleh ampunan dan
rezeki (nik-mat) yang mulia. (al-Anfaal: 74)
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ
يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحجرات: 15
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang
yang beriman ke-pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mere-ka tidak
ragu-ragu dan berjuang (ber-jihad) dengan harta dan jiwa mereka pada
jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang be-nar. (al-Hujuraat: 15)
Dalam ayat di atas, Allah kembali memuji mereka dan menggelarinya sebagai ash-Shaadiquun yaitu orang-orang yang jujur dan be-nar-benar beriman, bukan kaum munafik.
Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini. Allah tampakkan kemunafiqan mereka dalam beberapa kejadian.
Setiap mereka berupaya untuk meng-hindari jihad dengan kedustaan-kedustaan dan sumpah-sumpah palsu, Allah menurun-kan ayat-Nya yang menceritakan alasan-alasan mereka itu. Allah katakan dalam ayat-ayat tersebut dengan kalimat: “Berkata kaum munafik…” atau kalimat “Berkata dengan mulutnya yang tidak ada dalam hatinya”. Sehingga Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya mengerti tentang siapa-siapa orang-orang munafik. Bahkan kaum muslimin setelahnya dan kita semua mengetahui siapa para muna-fik itu satu persatu.
Allah berfirman:
وَلِيَعْلَمَ
الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ
اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالاً لَاتَّبَعْنَاكُمْ
هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ يَقُولُونَ
بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا
يَكْتُمُونَ. ال عمران: 167
Dan supaya diketahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada
mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah
(dirimu)". Mereka ber-kata: "Sekiranya kami mengetahui peperangan,
tentulah kami mengikutimu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada
kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan de-ngan mulutnya apa
yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang
mereka sembunyikan. (Ali Imran: 167)
أَلَمْ
تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ
كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ
مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ
لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. الحشر: 11
Apakah kalian tidak memperhatikan orang-orang munafik yang
berkata kepada sauda-ra-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab:
"Sesungguhnya jika kalian diusir nis-caya kamipun akan keluar bersamamu;
dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapapun untuk
(menyusahkan) kamu, dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantu
kalian." Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar
pendusta. (al-Hasyr: 11)
يَقُولُ
الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلآءِ
دِينُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ
حَكِيمٌ. الأنفال: 49
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang
ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin)
ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal
kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
(al-Anfaal: 49)
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ غُرُورًا. الأحزاب: 12
Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan
orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:"Allah dan Rasul-Nya
tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya". (al-Ahzaab: 12)
Selain dengan kalimat-kalimat tersebut di atas, Allah juga jelaskan mereka dengan kalimat yang semakna dan senada seperti al-Mukhalafuun (yakni orang-orang yang meng-hindar dari jihad), “yang tidak jujur”, atau “yang di hatinya ada penyakit” dan lain-lainnya.
Allah berfirman:
فَرِحَ
الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ
يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا
لاَ تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ
كَانُوا يَفْقَهُونَ. التوبة: 81
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa
gembira dengan ting-galnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka
tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan
mere-ka berkata: "Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam
panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat
panas(nya)" jika mereka mengetahui. (at-Taubah: 81)
سَيَقُولُ
لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ اْلأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا
وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ
فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ
أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. الفتح: 11
Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke
Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah
merinta-ngi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka
mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hati-nya.
Katakanlah: "Maka siapakah (gerang-an) yang dapat menghalang-halangi
ke-hendak Allah jika Dia menghendaki kemu-dharatan bagimu atau
jika Dia meng-hendaki manfa'at bagimu. Sebenarnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Fath: 11).Wallahu a’lam
Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
No comments:
Post a Comment